Minggu, 09 Februari 2014

Resensi Made of Stars



Resensi Novel Made Of Star




Judul
:   Made of Stars : Kisah yang Terukir di Langit  
No. ISBN
:   9797806847 
Penulis
:   Hana Krisviana 
Penerbit
Tanggal terbit
:   Desember – 2013
Tempat terbit
Jumlah Halaman
:   Jakarta Selatan
:   280 




















Dahulu, harapan adalah sesuatu yang menakutkan bagiku. Tak terhitung berapa kali dia membuatku kecewa dan kehilangan semangat hidup.

Namun, bintang jatuh yang melintas di langit Roma malam itu mengabulkan keinginan hatiku. Sesuatu yang selama ini kutahan di dalam mulutku, sesuatu yang tak pernah kuucapkan keras-keras, didengarkan oleh sebentuk bintang mati.

Dia pun datang. Seseorang yang hanya hadir sebagai kembang tidurku, kini menjelma malaikat tanpa sayap. Dia yang melengkungkan senyum di bibirku, dan menyebarkan hangat di beku hatiku. Dia membuatku berharap lagi….


Malam hari itu suasana dipenuhi oleh hiruk-pikuk kebahagiaan banyak orang di jalanan kota Roma. Semua orang terlihat senang, kecuali Aubrey Voerman yang sedari tadi menyandarkan kepalanya pada daun pintu terbuka dengan perasaan kosong. Pada hari yang sama, tepatnya tujuh hari yang lalu, ibu Bree meninggal karena overdosis obat tidur dan alkohol. Setelah ibunya meninggal, Bree pindah ke Roma untuk tinggal bersama kakeknya. Bree memperhatikan ketiga anak kecil yang berlarian di depannya, berusaha untuk ikut larut dalam kebahagiaan mereka.  “Tidak-Eh lihat, lihat! Ada bintang jatuh!” Tiba-tiba terdengar suara teriakan salah satu dari ketiga anak tersebut. Bree berjalan mendekat ke arah mereka dan ikut mendongak. Mengikuti arah pandangan ketiganya. 

            Sejurus kemudian, ketiganya menundukkan kepala dan memejamkan mata, membuat permohonan pada bintang jatuh. Kasihan, Bree berkata dalam hati. Setahu Bree, tak ada komet, meteor, ataupun asteroid yang bisa mengabulkan permohonan. Salah satu dari ketiga anak kecil tersebut meminta Bree untuk membuat permohonan. Dengan pura-pura ia memejamkan matanya dan membuat sebuah permohonan. Dia tidak akan menyangka jika permohonan asal-asalannya bisa menjadi kenyataan.

            Di tempat lain, Zaccaria Moratte, kekasih Bree sedang tidur-tidur ayam ketika dikejutkan oleh dering telepon yang memekakkan telinganya. Dari arah seberang, terdengar suara teriakan ayahnya yang mengatakan bahwa kakak tirinya, Milo Cassini baru saja mengalami kecelakaan cukup parah akibat memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Milo adalah anak yang bermasalah. Apa pun yang buruk  semua ada padanya. Milo itu pemabuk, pencuri, pemalas, playboy, begitu komentar beberapa orang yang kenal dengannya. Dia pernah mencuri kertas ujian, terlibat dalam perampokan kecil, mengemudi dalam keadaan mabuk, mengutil, kata-katanya kasar, tidak bermoral dan masih banyak lagi. Semua ini berawal sejak ayah dan ibunya bercerai, lalu ibunya memutuskan untuk menikah dengan pria lain yang tak lain adalah Ayah Zach yang selama empat tahun ini sudah tinggal bersamanya. Mendangar kabar kecelakaan Milo, Zach dan ibunya dengan cepat memacu mobil menuju rumah sakit Ospedale San Canillo. 

“Satu, dua, tiga --- clear”, dengan sekuat tenaga dokter menempelkan alat pemacu jantung ke dada Milo. Beberapa kali prosedur itu diulang, tetapi tidak ditemukan tanda-tanda perubahan apapun. Hingga suatu ketika salah satu dokter  melemparkan pandangan ke luar jendela dan melihat kilatan cahaya dari bintang jatuh yang melintas di langit. Dengan mengikuti kepercayaan neneknya ia berdoa dalam hati agar pasien operasi pertamanya ini mendapatkan kesempatan untuk menjalani hidup kedua. Sekali lagi prosedur itu diulang, garis-garis di monitor terangkat lebih tinggi dan bahkan berhasil mempertahankan ritmenya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa cahaya tersebut sebenarnya berasal dari satu entitas suci yang karena kecepatannya, kilatan tersebut menghilang bersamaan dengan kemunculannya.

            Bree tergegap ketika menyadari bulir-bulir air hujan dari arah jendela telah berhasil masuk ke kerongkongannya. Bree mencoba memejamkan matanya lagi, berusaha untuk kembali tidur dan melanjutkan mimpinya. Mimpi-mimpi Bree sebenarnya tidak istimewa. Yang istimewa adalah orang yang selalu muncul dalam mimpinya. Anael, sesosok malaikat protector yang bertugas melindungi Bree sebenarnya sudah ada sejak ia masih kecil. Tanpa Bree sadari, Anael selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. Mengajaknya bicara, menghiburnya, dan melindunginya dari mimpi buruk yang Bree alami. Meski selalu hadir dalam wujud yang berbeda-beda, Bree yakin bahwa sosok itu adalah sosok yang sama. Sosok yang selalu membuatnya nyaman dan tenang. Sayangnya, semua itu hanya bisa terjadi dalam mimpi Bree. Ketika terjaga dari tidurnya, Bree tidak lagi mengingat apa yang terjadi. Yang ia sadari adalah mimpi itu hanya menyisakan tanya tak terjawab. Hingga suatu saat seseorang datang secara tiba-tiba dalam hidup Bree, membuat Bree memiliki harapan yang dulu menjadi suatu hal yang menakutkan baginya. Suatu hari Bree bertemu dengan Milo Cassini di atap rumah sakit ketika semua orang tidak berhasil menemukannya. Bree tertegun ketika Milo dengan tiba-tiba menyodorkan setangkai bunga dandelion gundul padanya. Bree ingat ketika ibunya pernah berkata padanya bahwa jika berhasil menerbangkan serbuk bunga dandelion dalam satu tiupan, maka harapan kita akan terkabul. Seumur-umur hanya ada dua orang yang pernah memberinya dandelion. Mereka adalah ibunya dan seseorang yang selalu hadir dalam mimpinya. Ia tidak menyangka jika ada orang yang tidak ia kenal akan meniupkan dandelion hanya untuk mengharapkan hari-harinya menjadi menyenangkan. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Milo. Sepengetahuan Bree, Milo adalah sosok yang jauh dari kata baik. Namun, Bree merasa bahwa Milo layaknya sesosok malaikat tanpa sayap. Ia bagai sosok yang selalu datang dalam mimpi-mimpi Bree. Sosok yang mampu menghadirkan senyum di wajahnya, menyebarkan hangat di hatinya, dan memunculkan semangat dalam hidupnya.

            Semakin hari Bree semakin mendekat ke arah Milo. Bree adalah orang yang tertutup. Ia bahkan selalu menjauhkan diri dari sekumpulan orang hanya untuk menghindari agar tidak tersentuh. Tetapi, entah mengapa Bree merasa sangat nyaman berada di dekat orang yang hampir tidak dia kenal ini. Aura ketenangan yang melingkupi Milo seakan sanggup menulari orang-orang di sekitarnya dalam radius beberapa meter. Milo selalu punya kejutan untuk Bree di setiap harinya. Milo telah berhasil membuat hari-hari Bree yang semula terasa kosong, kini mulai terisi kembali dengan warna-warna ketulusan yang di berikan olehnya. Warna-warna yang diharapkan Milo dapat memberi kebahagiaan pada Bree di setiap harinya. Membuat Bree kembali bangkit dari keputusasaan dengan munculnya harapan-harapan baru. Milo sering mengajak Bree jalan bersama melihat pemandangan kota Roma. Ia telah berhasil membuat tawa Bree meledak ketika tiba-tiba Bree menerima sebuah bucket plastic berisi mainan babi berwarna pink darinya. Ia juga selalu datang menemani Bree latihan drama saat Zach tidak ada untuknya. Setiap tahun, sekolah Bree selalu mengadakan pagelaran drama hari Valentine. Kali ini sekolah Bree akan menampilkan  drama My Fair Lady yang diadaptasi dari drama dan Film lawas. Drama bagi Bree adalah sebuah lelucon baginya. Klise dan juga membosankan. Tetapi, sayangnya gadis itu malah terpilih menjadi Eliza Doolittle, tokoh utama yang akan bersanding dengan Henry Higgins yang diperankan oleh Zach. Dari rencana pagelaran drama ini, ada seseorang yang selalu berupaya memprotes keputusan Professore Bachelli yang telah memilih Bree sebagai tokoh utama. Dia adalah Allegra de Luca, primadona sekolah dan kebanggaan Liceo artistico. Sudah bertahun-tahun dia selalu mendapatkan peran utama di drama sekolah, sehingga mengetahui Bree yang menjadi tokoh utama membuatnya merasa sangat geram. Ia selalu mempunyai siasat untuk membuat Bree terlihat tidak layak memegang peran utama.

            Pukul dua belas malam baru saja lewat beberapa detik dan hari baru saja berganti, tetapi Milo sudah bertengger di atas kap mobilnya di depan rumah Bree. Hari ini adalah ulang tahun Bree yang kesembilan belas. Setelah bergadang beberapa malam untuk memutar otak, mencari tahu bagaimana dia bisa mewujudkan keinginan Bree, akhirnya Milo mendapat akal. Hari itu dia akan membawakan “bintang” permohonan untuk Bree. Milo menuntun Bree melintasi peninggalan bersejarah yang terhampar, melintasi puing-puing peninggalan bersejarah yang terhampar di sepanjang Via Appia Antica, menerobos bangunan seperti Colosseum, dan menyelinap masuk ke dalam taman tanpa kesulitan yang berarti. Di sana, di balik pohon besar yang terdapat di Tor marancia, terhampar padang luas tempat kunang-kunang ditangkarkan. Sama indah dengan bintang-bintang yang tersebar di langit. Bagi Milo, kunang-kunang adalah penghantar harapan yang baik, yang dengan cahayanya semoga mampu menuntun harapan Bree menuju kepada Sang Pencipta. 

            Suatu hari, ketika sinar matahari terakhir sudah meninggalkan horizon, Zach masih terduduk di meja makan untuk menunggu Bree makan bersama-sama Kakek Voerman dan dirinya. Tiba-tiba ekspresi Zach mengeras ketika Bree menghambur masuk ke dalam rumah dengan terbahak-bahak, disusul dengan Milo yang berjalan mengikutinya dari arah belakang. Selama ini hubungan Zach dan Bree memang statis dan kini hanya terkesan seperti rutinitas belaka. Zach juga menyadari jika ia tidak pernah ada saat Bree membutuhkannya, dan itu sedikit membuatnya menyesal. Tetapi, apakah itu pantas menjadi alasan Milo untuk masuk ke dalam hubungan percintaannya? Zach semakin geram, ia berpikir Milo sudah merebut semua miliknya. Dengan penuh amarah, ia mendaratkan pukulan kencang di wajah Milo. Milo pun kemudian membalas dengan menempeleng Zach menggunakan punggung tangannya. Gerakannya halus, tetapi entah mengapa pukulan yang membekas di wajah Zach lebih terlihat seperti tonjokkan yang dilakukan oleh seorang petinju. Aneh sekali. Ditambah lagi dengan kedamaian ganjil yang selalu Bree rasakan setiap kali mereka berdekatan, kemudian fakta bahwa Milo tidak pernah terlihat lapar bahkan setelah mereka berjalan-jalan seharian, lalu kejadian barusan. Sepertinya memang ada yang tidak biasa pada diri Milo. Apapun itu, kejadian tersebut telah membuat Bree sadar bahwa hubungannya dengan Zach memang tidak dapat dipertahankan lagi. Bree menatap mata Zach dalam-dalam, mencoba mencari kenyamanan di balik mata cokelatnya seperti yang biasa dia lakukan, tapi yang terlihat malah kilasan wajah Milo Cassini. Mata cokelat terang Zach memang ramah, terlihat seperti memberikan senyuman pada orang lain lewat pandangannya. Akan tetapi, mata hijau milik Milo berbeda. Bree bisa menemukan kedamaian hanya dengan menatapnya, merasakan rasa aman yang tidak dimiliki orang lain selain Milo. 

            Setelah selesai mencoba kostum untuk penampilan dramanya, Allegra melihat kertas berceceran dari tas tangan berwarna hitam di dekatnya. Sambil menggerutu, Allegra memunguti kertas-kertas itu, menjejalkannya dengan asal-asalan ke dalam tas tersebut. Tangannya terantuk benda tumpul yang kecil ketika ia mengulurkan tangannya ke dalam tas itu. Dikuasai rasa penasaran, Allegra merogohkan tangannya lebih dalam untuk mengambil benda tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa benda tersebut ternyata adalah jarum suntik yang masih steril. Dilihatnya juga ada beberapa buah jarum suntik lainnya dan beberapa botol obat plastik berukuran kecil yang berisi pil warna-warni. “Mungkinkah ini narkoba?”, pikir Allegra. Dengan penasaran ia merogoh-rogoh lagi ke dalam tas tersebut, berniat untuk mencari identitas si pemilik. Dia melihat ada dompet di dalamnya, terdapat sebuah foto terpasang di sana. Terlihat wajah seorang gadis cantik yang  ingin selalu dia rusak saking bencinya. Wajah yang ia anggap sebagai musuh abadinya. Wajah itu adalah wajah Bree Voerman. Dengan cepat Allegra melapor pada Professore Bachelli, sutradara dalam drama kolosal My Fair Lady. Allegra merasa di atas angin. Ia tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya harapannya untuk bisa menyingkirkan Bree Voerman berhasil terwujud. Kejadian tersebut membuat semua orang di sekolahnya tahu bahwa selama ini Bree telah menderita penyakit HIV positif yang diturunkan oleh orang tuanya.

            Suatu hari ketika sedang berbincang dengan Kakek Voerman, Zach menceritakan beberapa keganjilan yang ia temukan pada diri Milo. Kakek Voerman berpikir bahwa bisa jadi Milo bukanlah orang yang sama. Ia berpikir bahwa Milo sebenarnya sudah kerasukan oleh roh sesuatu. Kakek Voerman memang tidak di besarkan di zaman yang mengagungkan teknologi dan skeptisme. Ia adalah tipe orang yang memikirkan segala kemungkinan, bahkan yang terdengar mustahil sekalipun. Dia tidak ingin memikirkan kemungkinan Milo bisa berdekatan dengan cucu yang ia sayangi. Ia berencana akan melakukan upacara pengusiran roh halus. Sekedar mengetes, apakah Milo benar-benar kerasukan atau tidak. Ia ingat ketika dirinya masih menjadi chef di Hotel Sant’Anselmo, dia pernah mempunyai kolega yang menyukai okultisme dan mengaku memiliki bakat menjadi cenayang. Tanpa banyak membuang waktu, Kakek Voerman segera menghubungi Enzo Ginacchio, mantan koleganya tesebut. Setelah dibujuk beberapa kali akhirnya Enzo mau melakukan upacara pengusiran roh halus. Dia menjebak Milo dengan mengatakan Bree mau bertemu dengannya. Ketika Milo memasuki Kakek Voerman, mereka segera menyergapnya dan mengikatnya di tempat tidur. Ketika Bree telah sampai dirumahnya, Bree tidak mendengar suara apapun sebagai balasan dari panggilannya. Sayup-sayup telinga Bree menangkap suara erangan tertahan dari arah kamar Kakek Voerman. Dengan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya, ia berjalan masuk ke kamar Kakek Voerman. Bree tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Milo Cassini terikat di kamar atas ranjang kakeknya., mulutnya yang disumpal mengerang rasa sakit. Ada seorang yang asing berdiri di pinggir tempat tidur, merapalkan sesuatu yang terdengar seperti mantra. Bree menjerit histeris, sedang Zach terus berusaha menahannya. Tak kalah, Enzo pun terus-menerus merapalkan bacaannya tanpa henti. Tiba-tiba terdengar suara petir. 

Hallo, Anael. Saatnya pulang” Terdengar suara asing yang menggelegar di seluruh ruangan. Bersamaan dengan hal tersebut, Roh Anael terangkat, terlepas dari tubuh Milo Cassini yang selama ini selalu menjadi tempat bersemayamnya. Sesampai di Surga, Anael langsung diadili, ia mendapat hukuman tinggal di penjara dunia bawah. Ketika Rogziel (punisher) sedang berbicara serius dengan Caliel, asisten Archon Phanuel, Ia pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri.  Anael berhasil melemparkan dirinya kebawah, ke dunia manusia, dan kembali memasuki tubuh Milo Cassini. Ia tahu bahwa setelah ini para punisher itu pasti akan mengejarnya dan ia tidak dapat membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya nanti. Dalam pikiran Anael hanya ada Aubrey. Ia terlalu takut membayangkan bahwa kenyataan yang tertulis di buku takdir ketika ia diam-diam menyelinap masuk ke ruangan Archon itu benar. Dia tidak pernah membayangkan jika orang yang ia cintai akan bunuh diri pada tanggal 18 Februari nanti. Bunuh diri adalah dosa yang tidak terampunkan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan saudaranya nanti jika Bree benar-benar melakukannya. Sebisa mungkin ia akan menghalangi Bree, berusaha menukar takdir dengan kemuliaannya sendiri. 

            Setelah berhasil memasuki tubuh Milo kembali, Anael seketika tersentak. Bree pun terkejut, merasa tidak percaya bahwa Milo telah hidup kembali. Anael pun menjelaskan tentang wujud aslinya pada Bree. Anael meminta Bree mengulurkan tangannya. Perlahan Anael menuliskan sesuatu pada telapak tangan Bree.

H-O-P-E. Harapan.

            Bree tersentak. Sentuhan Anael membangkitkan ingatan akan mimpinya yang sempat terkubur jauh dalam alam bawah sadarnya. Seperti ada yang tiba-tiba menempelkan sekeping puzzle  untuk melengkapi memorinya yang kurang sempurna. Ada perasaan familier yang mengerubunginya begitu jemari Anael menyentuhnya. Perasaan yang sama ketika sahabat imaginernya juga pernah melukiskan sentuhan tersebut di telapak tangannya. Kini kehadirannya nyata, senyata desah napas teratur yang berembus di tengkuk Bree. Dengan erat, Bree memeluk Anael. Dia tidak ingin jika suatu ketika Anael akan pergi meninggalkannya lagi.

            Semakin hari, tanda-tanda perubahan pada Bree semakin jelas terlihat. Tanda-tanda bahwa masa inkubasi bakteri HIV AIDS Bree sudah berakhir. Beberapa tanda-tanda HIV AIDS mulai jelas dikenali, seperti mual, sakit kepala hebat, lemas, demam tinggi, nyeri otot, bahkan Sarkoma Kaposinya sudah dapat ditemukan di beberapa bagian tubuh Bree. Semakin lama kesehatan Bree kian memburuk, bahkan tubuhnya sudah sulit untuk digerakkan lagi. Ketika ia benar-benar merasa terpukul atas kejadian jarum suntik pada waktu itu, Bree membuang obat ARV-nya sehingga bakteri HIV dapat mengalahkan daya tahan tubuhnya. Hal ini membuang semua harapan-harapan Bree untuk dapat hidup lama bersama orang-orang yang ia cintai. Suatu hari Bree memberi sepucuk surat pada Anael. Ia berkata jika Anael harus membukannya saat ia tidak berada di dunia ini lagi. Pada hari itu Bree nampak berbeda. Suasana ceria memenuhi wajahnya. Ia pun meminta pada Anael untuk mengambil jurnalnya di rumah. Ia berkata jika ia benar-benar ingin menulis. Karena rasa iba melihat Bree memelas padanya, akhirnya dengan terpaksa Anael mengikuti keinginannya. Tapi, jauh di dalam lubuk hati Anael, ia benar-benar takut. Takut jika Bree akan benar-berar mewujudkan takdir yang telah digariskan padanya di hari itu. 

            Sepeninggal Anael, Bree menuang isi botol obat-obatan berdosis keras. Dia memenuhi genggaman tangannya dengan pil warna-warni, lalu dengan sekali gerakan memasukkan semua itu ke dalam mulutnya. Bree berpikir mungkin inilah salah satu jalan untuk mencurangi takdir agar Anael bisa lebih lama berada disini. 

Ketika sedang berjalan menuju kamar Bree, Kakek Voerman melihat beberapa dokter dan perawat berbaju putih-putih berlari ke arah kamar cucunya. Keringat dingin menetes di dahinya. Tangannya yang mengepal mulai bergetar. Ternyata ketakutan yang selama ini selalu dihindarinya terjadi juga. Bree mengalami sedikit komplikasi akibat overdosis obat. Kejadian ini membuat Bree harus koma selama beberapa hari. Berhari-hari tanpa lelah Anael menemani Bree di rumah sakit. Matanya yang sendu dengan lingkaran hitam menghiasi mengisyaratkan bahwa ia sudah sering menangis beberapa hari ini. Ia sangat terpukul atas kejadian ini. Hatinya seperti tersayat pisau tajam melihat keadaan Bree saat ini. Sesekali diusapnya tangan gadis itu sambil membisikkan doa-doa. Selama di rumah sakit, Anael juga sering membawakan bunga dandelion dan meniupkannya pada Bree hanya sekedar untuk membuat harapan-harapan kecil yang semoga akan didengar oleh yang Maha Kuasa.

            Desir halus udara menandai kehadiran orang lain disitu. Tanpa melihat, Anael langsung bisa mengenalinya sebagai Azrael, Pemandu arwah manusia ketika sampai pada waktunya. 

“Pergi”, usir Anael pada Azrael.

            Azrael menatap saudaranya, terbesit rasa iba dalam dirinya. Tapi, inilah garis yang sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta. Ia tidak dapat melakukan apapun selain menjalankan tugasnya. Azrael memberi saran Anael untuk kembali ke surga dan memohon ampun. Itu bisa dilakukannya agar para Archon bersedia memberinya Kemuliaan baru. Kata-kata Azrael seketika memberi Anael ide. Ia berencana ingin memberikan kemuliaannya pada Bree sebagai jalan agar saat Bree meninggalkannya, ia bisa mendapatkan kehidupan baru yang jauh lebih baik disana. Dengan hati-hati Anael menaruh kristal itu di atas dahi Bree, suatu prosedur yang akan membuat kemuliaannya masuk kedalam tubuh gadis itu. Kemuliaannya bercahaya makin terang seiring dengan doa yang terdaras dari bibir Anael. Tetapi, ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan Anael. Terdengar suara bip-bip keras dari monitor ECG di sebelah tempat tidur Bree. Suatu tanda telah terjadi kompikasi. Beberapa kali dokter menempelkan alat pemacu jantung pada dada Bree, tapi sayang grafik pada monitor kian menurun. Para dokter menggelengkan kepala dengan putus asa ketika garis lurus terus berjalan di layar mesin. Kakek Voerman dan Anael menjerit frustasi. Bree Voerman dinyatakan meninggal pada saat jarum jam menunjukkan angka 20.16.

            Anael masih bertahan di pemakaman, di depan dinding berwarna putih pualam tempat Bree disemayamkan. Ia menatap foto Bree dengan pandangan kosong. Melawan usahanya untuk berteriak, Anael mencengkram tangkai-tangkai bunga krisan yang diberikan Kakek Voerman pada Bree. Bibirnya menahan tangis dan teriakan. Dia begitu menyesal ketika Bree bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Pemuda itu tersentak ketika menyadari bahwa ia tak sendiri lagi. Azrael telah berdiri disampingnya. 

“Kau tahu dia mencintaimu, sebagaimana kau mencintainya. Kalian tidak butuh kata-kata terakhir untuk menegaskan hal itu. Kalau tidak salah, bukankan Aubrey menyukai dandelion? Kenapa kau membawakannya krisan? Kau mendengarku, Hidup barumu adalah hadiah darinya, sebagaimana hidup barunya adalah hadiah darimu. Nikmatilah!” Azrael mundur selangkah lagi, tersenyum makin lebar, kemudian menghilang secepat kedatangannya. Anael memanggil-manggil untuk bebeapa saat, bertanya dengan sia-sia pada udara kosong tentang apa maksud kalimatnya yang begitu membingungkan. Saat Anael berniat untuk melangkah pergi, tiba-tiba angin kencang berhembus di sekitarnya dan menerbangkan bunga-bunga krisan menjauh. Anael berlari mengejar bunga-bunga tersebut. Beruntung, krisan-krisan itu melambat dan akhirnya jatuh berserakan di sudut pemakaman. Anael menunduk untuk memungut bunga-bunganya yang terserak di antara ilalang. Belum lagi selesai, gerakan tangannya terhenti saat menyadari bahwa bunga-bunga itu jatuh di dekat beberapa tangkai dandelion liar yang entah bagaimana, bisa tetap tumbuh di pertengahan musim dingin. Bulu tengkuknya berdiri ketika merasakan desiran udara yang amat halus di belakangnya. Jantungnya mulai berdebar, telapak tangannya berkeringat, gejala yang hampir selalu dia alami setiap kali bertemu dengan…

Aubrey?”

 
*****



* Kelebihan


Made of Stars merupakan sebuah novel karya Hana Krisviana. Novel terbitan GagasMedia ini mengajak kita untuk mengikuti kisah cinta yang “tak terjangkau”. Penuh dengan keajaiban, pengorbanan, dan harapan. Kisah cinta antara seorang perempuan dengan sosok malaikat pelindungnya. Mengharukan, menyentuh perasaan, dan penuh perjuangan. Ketika membaca sinopsis di bagian belakang Novel, Kita akan langsung tertarik untuk mengetahui jalan ceritanya. Novel ini memang sangat bagus. Novel ini mengajarkan kita untuk mengenali beberapa makna benda-benda di sekitar kita, seperti langit, bintang, dan bunga dandelion. Selain jalan cerita yang menarik, Alur pada Novel ini juga tersusun secara teratur hingga pada akhir cerita. Di dalamnya juga terdapat puisi-puisi indah dari penulis ternama mancanegara. Selain itu juga terdapat kutipan kalimat motivasi di dalamnya. Novel ini mengajarkan kita untuk terus berusaha tanpa kenal menyerah dan memupuk diri kita untuk selalu menumbuhkan harapan yang dapat membangun semangat hidup. Sungguh Novel yang benar-benar menginspirasi. Melalui Novel ini diharapkan pembaca dapat mendapatkan pelajaran akan arti kasih sayang yang sesungguhnya, tentang ketulusan, dan perjuangan meraih apa yang diimpikan. Karena segala sesuatu ada konsekuensinya, dan yang lebih pasti tidak ada yang tidak mungkin. Segala kemungkinan bisa terjadi asalkan kita mau berusaha mengubah takdir.




* Kekurangan    
   

Novel ini adalah Novel yang bersifat fiktif. Cerita yang ada di dalamnya hanyalah cerita rekaan belaka sehingga kurang cocok dibaca pada anak-anak kecil yang masih mudah terpengaruh dengan hal-hal yang bersifat khayalan.