Resensi Novel Made Of Star
|
Dahulu, harapan
adalah sesuatu yang menakutkan bagiku. Tak terhitung berapa kali dia membuatku
kecewa dan kehilangan semangat hidup.
Namun, bintang jatuh
yang melintas di langit Roma malam itu mengabulkan keinginan hatiku. Sesuatu
yang selama ini kutahan di dalam mulutku, sesuatu yang tak pernah kuucapkan
keras-keras, didengarkan oleh sebentuk bintang mati.
Dia pun datang.
Seseorang yang hanya hadir sebagai kembang tidurku, kini menjelma malaikat
tanpa sayap. Dia yang melengkungkan senyum di bibirku, dan menyebarkan hangat
di beku hatiku. Dia membuatku berharap lagi….
Malam hari itu
suasana dipenuhi oleh hiruk-pikuk kebahagiaan banyak orang di jalanan kota Roma.
Semua orang terlihat senang, kecuali Aubrey Voerman yang sedari tadi
menyandarkan kepalanya pada daun pintu terbuka dengan perasaan kosong. Pada
hari yang sama, tepatnya tujuh hari yang lalu, ibu Bree meninggal karena
overdosis obat tidur dan alkohol. Setelah ibunya meninggal, Bree pindah ke Roma
untuk tinggal bersama kakeknya. Bree memperhatikan ketiga anak kecil yang
berlarian di depannya, berusaha untuk ikut larut dalam kebahagiaan mereka. “Tidak-Eh lihat, lihat! Ada bintang jatuh!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan salah satu dari ketiga anak tersebut. Bree
berjalan mendekat ke arah mereka dan ikut mendongak. Mengikuti arah pandangan
ketiganya.
Sejurus
kemudian, ketiganya menundukkan kepala dan memejamkan mata, membuat permohonan
pada bintang jatuh. Kasihan, Bree
berkata dalam hati. Setahu Bree, tak ada komet, meteor, ataupun asteroid yang
bisa mengabulkan permohonan. Salah satu dari ketiga anak kecil tersebut meminta
Bree untuk membuat permohonan. Dengan pura-pura ia memejamkan matanya dan
membuat sebuah permohonan. Dia tidak akan menyangka jika permohonan
asal-asalannya bisa menjadi kenyataan.
Di
tempat lain, Zaccaria Moratte, kekasih Bree sedang tidur-tidur ayam ketika
dikejutkan oleh dering telepon yang memekakkan telinganya. Dari arah seberang,
terdengar suara teriakan ayahnya yang mengatakan bahwa kakak tirinya, Milo
Cassini baru saja mengalami kecelakaan cukup parah akibat memacu mobil dengan
kecepatan tinggi. Milo adalah anak yang bermasalah. Apa pun yang buruk semua ada padanya. Milo itu pemabuk, pencuri,
pemalas, playboy, begitu komentar beberapa orang yang kenal dengannya. Dia
pernah mencuri kertas ujian, terlibat dalam perampokan kecil, mengemudi dalam
keadaan mabuk, mengutil, kata-katanya kasar, tidak bermoral dan masih banyak
lagi. Semua ini berawal sejak ayah dan ibunya bercerai, lalu ibunya memutuskan
untuk menikah dengan pria lain yang tak lain adalah Ayah Zach yang selama empat
tahun ini sudah tinggal bersamanya. Mendangar kabar kecelakaan Milo, Zach dan
ibunya dengan cepat memacu mobil menuju rumah sakit Ospedale San Canillo.
“Satu, dua, tiga --- clear”, dengan sekuat tenaga dokter
menempelkan alat pemacu jantung ke dada Milo. Beberapa kali prosedur itu
diulang, tetapi tidak ditemukan tanda-tanda perubahan apapun. Hingga suatu
ketika salah satu dokter melemparkan
pandangan ke luar jendela dan melihat kilatan cahaya dari bintang jatuh yang
melintas di langit. Dengan mengikuti kepercayaan neneknya ia berdoa dalam hati
agar pasien operasi pertamanya ini mendapatkan kesempatan untuk menjalani hidup
kedua. Sekali lagi prosedur itu diulang, garis-garis di monitor terangkat lebih
tinggi dan bahkan berhasil mempertahankan ritmenya. Namun, tidak ada yang tahu
bahwa cahaya tersebut sebenarnya berasal dari satu entitas suci yang karena
kecepatannya, kilatan tersebut menghilang bersamaan dengan kemunculannya.
Bree
tergegap ketika menyadari bulir-bulir air hujan dari arah jendela telah
berhasil masuk ke kerongkongannya. Bree mencoba memejamkan matanya lagi,
berusaha untuk kembali tidur dan melanjutkan mimpinya. Mimpi-mimpi Bree
sebenarnya tidak istimewa. Yang istimewa adalah orang yang selalu muncul dalam
mimpinya. Anael, sesosok malaikat protector yang bertugas melindungi Bree
sebenarnya sudah ada sejak ia masih kecil. Tanpa Bree sadari, Anael selalu
hadir dalam mimpi-mimpinya. Mengajaknya bicara, menghiburnya, dan melindunginya
dari mimpi buruk yang Bree alami. Meski selalu hadir dalam wujud yang
berbeda-beda, Bree yakin bahwa sosok itu adalah sosok yang sama. Sosok yang
selalu membuatnya nyaman dan tenang. Sayangnya, semua itu hanya bisa terjadi
dalam mimpi Bree. Ketika terjaga dari tidurnya, Bree tidak lagi mengingat apa
yang terjadi. Yang ia sadari adalah mimpi itu hanya menyisakan tanya tak terjawab.
Hingga suatu saat seseorang datang secara tiba-tiba dalam hidup Bree, membuat
Bree memiliki harapan yang dulu menjadi suatu hal yang menakutkan baginya.
Suatu hari Bree bertemu dengan Milo Cassini di atap rumah sakit ketika semua
orang tidak berhasil menemukannya. Bree tertegun ketika Milo dengan tiba-tiba
menyodorkan setangkai bunga dandelion gundul padanya. Bree ingat ketika ibunya
pernah berkata padanya bahwa jika berhasil menerbangkan serbuk bunga dandelion
dalam satu tiupan, maka harapan kita akan terkabul. Seumur-umur hanya ada dua
orang yang pernah memberinya dandelion. Mereka adalah ibunya dan seseorang yang
selalu hadir dalam mimpinya. Ia tidak menyangka jika ada orang yang tidak ia
kenal akan meniupkan dandelion hanya untuk mengharapkan hari-harinya menjadi
menyenangkan. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Milo. Sepengetahuan Bree,
Milo adalah sosok yang jauh dari kata baik. Namun, Bree merasa bahwa Milo
layaknya sesosok malaikat tanpa sayap. Ia bagai sosok yang selalu datang dalam
mimpi-mimpi Bree. Sosok yang mampu menghadirkan senyum di wajahnya, menyebarkan
hangat di hatinya, dan memunculkan semangat dalam hidupnya.
Semakin
hari Bree semakin mendekat ke arah Milo. Bree adalah orang yang tertutup. Ia
bahkan selalu menjauhkan diri dari sekumpulan orang hanya untuk menghindari
agar tidak tersentuh. Tetapi, entah mengapa Bree merasa sangat nyaman berada di
dekat orang yang hampir tidak dia kenal ini. Aura ketenangan yang melingkupi
Milo seakan sanggup menulari orang-orang di sekitarnya dalam radius beberapa
meter. Milo selalu punya kejutan untuk Bree di setiap harinya. Milo telah
berhasil membuat hari-hari Bree yang semula terasa kosong, kini mulai terisi
kembali dengan warna-warna ketulusan yang di berikan olehnya. Warna-warna yang
diharapkan Milo dapat memberi kebahagiaan pada Bree di setiap harinya. Membuat
Bree kembali bangkit dari keputusasaan dengan munculnya harapan-harapan baru.
Milo sering mengajak Bree jalan bersama melihat pemandangan kota Roma. Ia telah
berhasil membuat tawa Bree meledak ketika tiba-tiba Bree menerima sebuah bucket
plastic berisi mainan babi berwarna pink darinya. Ia juga selalu datang
menemani Bree latihan drama saat Zach tidak ada untuknya. Setiap tahun, sekolah
Bree selalu mengadakan pagelaran drama hari Valentine. Kali ini sekolah Bree
akan menampilkan drama My Fair Lady yang
diadaptasi dari drama dan Film lawas. Drama bagi Bree adalah sebuah lelucon
baginya. Klise dan juga membosankan. Tetapi, sayangnya gadis itu malah terpilih
menjadi Eliza Doolittle, tokoh utama yang akan bersanding dengan Henry Higgins
yang diperankan oleh Zach. Dari rencana pagelaran drama ini, ada seseorang yang
selalu berupaya memprotes keputusan Professore Bachelli yang telah memilih Bree
sebagai tokoh utama. Dia adalah Allegra de Luca, primadona sekolah dan kebanggaan
Liceo artistico. Sudah bertahun-tahun dia selalu mendapatkan peran utama di
drama sekolah, sehingga mengetahui Bree yang menjadi tokoh utama membuatnya
merasa sangat geram. Ia selalu mempunyai siasat untuk membuat Bree terlihat
tidak layak memegang peran utama.
Pukul
dua belas malam baru saja lewat beberapa detik dan hari baru saja berganti,
tetapi Milo sudah bertengger di atas kap mobilnya di depan rumah Bree. Hari ini
adalah ulang tahun Bree yang kesembilan belas. Setelah bergadang beberapa malam
untuk memutar otak, mencari tahu bagaimana dia bisa mewujudkan keinginan Bree,
akhirnya Milo mendapat akal. Hari itu dia akan membawakan “bintang” permohonan
untuk Bree. Milo menuntun Bree melintasi peninggalan bersejarah yang terhampar,
melintasi puing-puing peninggalan bersejarah yang terhampar di sepanjang Via
Appia Antica, menerobos bangunan seperti Colosseum, dan menyelinap masuk ke
dalam taman tanpa kesulitan yang berarti. Di sana, di balik pohon besar yang
terdapat di Tor marancia, terhampar padang luas tempat kunang-kunang
ditangkarkan. Sama indah dengan bintang-bintang yang tersebar di langit. Bagi
Milo, kunang-kunang adalah penghantar harapan yang baik, yang dengan cahayanya
semoga mampu menuntun harapan Bree menuju kepada Sang Pencipta.
Suatu
hari, ketika sinar matahari terakhir sudah meninggalkan horizon, Zach masih
terduduk di meja makan untuk menunggu Bree makan bersama-sama Kakek Voerman dan
dirinya. Tiba-tiba ekspresi Zach mengeras ketika Bree menghambur masuk ke dalam
rumah dengan terbahak-bahak, disusul dengan Milo yang berjalan mengikutinya
dari arah belakang. Selama ini hubungan Zach dan Bree memang statis dan kini
hanya terkesan seperti rutinitas belaka. Zach juga menyadari jika ia tidak
pernah ada saat Bree membutuhkannya, dan itu sedikit membuatnya menyesal.
Tetapi, apakah itu pantas menjadi alasan Milo untuk masuk ke dalam hubungan
percintaannya? Zach semakin geram, ia berpikir Milo sudah merebut semua
miliknya. Dengan penuh amarah, ia mendaratkan pukulan kencang di wajah Milo.
Milo pun kemudian membalas dengan menempeleng Zach menggunakan punggung
tangannya. Gerakannya halus, tetapi entah mengapa pukulan yang membekas di
wajah Zach lebih terlihat seperti tonjokkan yang dilakukan oleh seorang
petinju. Aneh sekali. Ditambah lagi dengan kedamaian ganjil yang selalu Bree
rasakan setiap kali mereka berdekatan, kemudian fakta bahwa Milo tidak pernah
terlihat lapar bahkan setelah mereka berjalan-jalan seharian, lalu kejadian
barusan. Sepertinya memang ada yang tidak biasa pada diri Milo. Apapun itu,
kejadian tersebut telah membuat Bree sadar bahwa hubungannya dengan Zach memang
tidak dapat dipertahankan lagi. Bree menatap mata Zach dalam-dalam, mencoba
mencari kenyamanan di balik mata cokelatnya seperti yang biasa dia lakukan,
tapi yang terlihat malah kilasan wajah Milo Cassini. Mata cokelat terang Zach
memang ramah, terlihat seperti memberikan senyuman pada orang lain lewat
pandangannya. Akan tetapi, mata hijau milik Milo berbeda. Bree bisa menemukan
kedamaian hanya dengan menatapnya, merasakan rasa aman yang tidak dimiliki
orang lain selain Milo.
Setelah
selesai mencoba kostum untuk penampilan dramanya, Allegra melihat kertas
berceceran dari tas tangan berwarna hitam di dekatnya. Sambil menggerutu,
Allegra memunguti kertas-kertas itu, menjejalkannya dengan asal-asalan ke dalam
tas tersebut. Tangannya terantuk benda tumpul yang kecil ketika ia mengulurkan
tangannya ke dalam tas itu. Dikuasai rasa penasaran, Allegra merogohkan tangannya
lebih dalam untuk mengambil benda tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika
mendapati bahwa benda tersebut ternyata adalah jarum suntik yang masih steril.
Dilihatnya juga ada beberapa buah jarum suntik lainnya dan beberapa botol obat
plastik berukuran kecil yang berisi pil warna-warni. “Mungkinkah ini narkoba?”,
pikir Allegra. Dengan penasaran ia merogoh-rogoh lagi ke dalam tas tersebut,
berniat untuk mencari identitas si pemilik. Dia melihat ada dompet di dalamnya,
terdapat sebuah foto terpasang di sana. Terlihat wajah seorang gadis cantik
yang ingin selalu dia rusak saking
bencinya. Wajah yang ia anggap sebagai musuh abadinya. Wajah itu adalah wajah
Bree Voerman. Dengan cepat Allegra melapor pada Professore Bachelli, sutradara
dalam drama kolosal My Fair Lady. Allegra merasa di atas angin. Ia tersenyum
penuh kemenangan. Akhirnya harapannya untuk bisa menyingkirkan Bree Voerman
berhasil terwujud. Kejadian tersebut membuat semua orang di sekolahnya tahu
bahwa selama ini Bree telah menderita penyakit HIV positif yang diturunkan oleh
orang tuanya.
Suatu
hari ketika sedang berbincang dengan Kakek Voerman, Zach menceritakan beberapa
keganjilan yang ia temukan pada diri Milo. Kakek Voerman berpikir bahwa bisa
jadi Milo bukanlah orang yang sama. Ia berpikir bahwa Milo sebenarnya sudah
kerasukan oleh roh sesuatu. Kakek Voerman memang tidak di besarkan di zaman
yang mengagungkan teknologi dan skeptisme. Ia adalah tipe orang yang memikirkan
segala kemungkinan, bahkan yang terdengar mustahil sekalipun. Dia tidak ingin
memikirkan kemungkinan Milo bisa berdekatan dengan cucu yang ia sayangi. Ia
berencana akan melakukan upacara pengusiran roh halus. Sekedar mengetes, apakah
Milo benar-benar kerasukan atau tidak. Ia ingat ketika dirinya masih menjadi chef di Hotel Sant’Anselmo, dia pernah
mempunyai kolega yang menyukai okultisme dan mengaku memiliki bakat menjadi
cenayang. Tanpa banyak membuang waktu, Kakek Voerman segera menghubungi Enzo
Ginacchio, mantan koleganya tesebut. Setelah dibujuk beberapa kali akhirnya
Enzo mau melakukan upacara pengusiran roh halus. Dia menjebak Milo dengan
mengatakan Bree mau bertemu dengannya. Ketika Milo memasuki Kakek Voerman,
mereka segera menyergapnya dan mengikatnya di tempat tidur. Ketika Bree telah
sampai dirumahnya, Bree tidak mendengar suara apapun sebagai balasan dari
panggilannya. Sayup-sayup telinga Bree menangkap suara erangan tertahan dari
arah kamar Kakek Voerman. Dengan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya, ia berjalan
masuk ke kamar Kakek Voerman. Bree tidak percaya dengan apa yang sedang
dilihatnya. Milo Cassini terikat di kamar atas ranjang kakeknya., mulutnya yang
disumpal mengerang rasa sakit. Ada seorang yang asing berdiri di pinggir tempat
tidur, merapalkan sesuatu yang terdengar seperti mantra. Bree menjerit
histeris, sedang Zach terus berusaha menahannya. Tak kalah, Enzo pun
terus-menerus merapalkan bacaannya tanpa henti. Tiba-tiba terdengar suara
petir.
“Hallo,
Anael. Saatnya pulang” Terdengar suara asing yang menggelegar di seluruh
ruangan. Bersamaan dengan hal tersebut, Roh Anael terangkat, terlepas dari
tubuh Milo Cassini yang selama ini selalu menjadi tempat bersemayamnya. Sesampai
di Surga, Anael langsung diadili, ia mendapat hukuman tinggal di penjara dunia
bawah. Ketika Rogziel (punisher) sedang
berbicara serius dengan Caliel, asisten Archon Phanuel, Ia pun memanfaatkan
kesempatan tersebut untuk melarikan diri.
Anael berhasil melemparkan dirinya kebawah, ke dunia manusia, dan
kembali memasuki tubuh Milo Cassini. Ia tahu bahwa setelah ini para punisher itu pasti akan mengejarnya dan
ia tidak dapat membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya nanti. Dalam
pikiran Anael hanya ada Aubrey. Ia terlalu takut membayangkan bahwa kenyataan
yang tertulis di buku takdir ketika ia diam-diam menyelinap masuk ke ruangan
Archon itu benar. Dia tidak pernah membayangkan jika orang yang ia cintai akan
bunuh diri pada tanggal 18 Februari nanti. Bunuh diri adalah dosa yang tidak
terampunkan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan saudaranya nanti jika Bree
benar-benar melakukannya. Sebisa mungkin ia akan menghalangi Bree, berusaha
menukar takdir dengan kemuliaannya sendiri.
Setelah
berhasil memasuki tubuh Milo kembali, Anael seketika tersentak. Bree pun
terkejut, merasa tidak percaya bahwa Milo telah hidup kembali. Anael pun
menjelaskan tentang wujud aslinya pada Bree. Anael meminta Bree mengulurkan
tangannya. Perlahan Anael menuliskan sesuatu pada telapak tangan Bree.
H-O-P-E. Harapan.
Bree
tersentak. Sentuhan Anael membangkitkan ingatan akan mimpinya yang sempat
terkubur jauh dalam alam bawah sadarnya. Seperti ada yang tiba-tiba menempelkan
sekeping puzzle untuk melengkapi memorinya yang kurang
sempurna. Ada perasaan familier yang mengerubunginya begitu jemari Anael
menyentuhnya. Perasaan yang sama ketika sahabat imaginernya juga pernah
melukiskan sentuhan tersebut di telapak tangannya. Kini kehadirannya nyata,
senyata desah napas teratur yang berembus di tengkuk Bree. Dengan erat, Bree memeluk
Anael. Dia tidak ingin jika suatu ketika Anael akan pergi meninggalkannya lagi.
Semakin
hari, tanda-tanda perubahan pada Bree semakin jelas terlihat. Tanda-tanda bahwa
masa inkubasi bakteri HIV AIDS Bree sudah berakhir. Beberapa tanda-tanda HIV AIDS
mulai jelas dikenali, seperti mual, sakit kepala hebat, lemas, demam tinggi,
nyeri otot, bahkan Sarkoma Kaposinya sudah dapat ditemukan di beberapa bagian
tubuh Bree. Semakin lama kesehatan Bree kian memburuk, bahkan tubuhnya sudah
sulit untuk digerakkan lagi. Ketika ia benar-benar merasa terpukul atas
kejadian jarum suntik pada waktu itu, Bree membuang obat ARV-nya sehingga
bakteri HIV dapat mengalahkan daya tahan tubuhnya. Hal ini membuang semua
harapan-harapan Bree untuk dapat hidup lama bersama orang-orang yang ia cintai.
Suatu hari Bree memberi sepucuk surat pada Anael. Ia berkata jika Anael harus
membukannya saat ia tidak berada di dunia ini lagi. Pada hari itu Bree nampak
berbeda. Suasana ceria memenuhi wajahnya. Ia pun meminta pada Anael untuk mengambil
jurnalnya di rumah. Ia berkata jika ia benar-benar ingin menulis. Karena rasa
iba melihat Bree memelas padanya, akhirnya dengan terpaksa Anael mengikuti keinginannya.
Tapi, jauh di dalam lubuk hati Anael, ia benar-benar takut. Takut jika Bree
akan benar-berar mewujudkan takdir yang telah digariskan padanya di hari itu.
Sepeninggal
Anael, Bree menuang isi botol obat-obatan berdosis keras. Dia memenuhi
genggaman tangannya dengan pil warna-warni, lalu dengan sekali gerakan
memasukkan semua itu ke dalam mulutnya. Bree berpikir mungkin inilah salah satu
jalan untuk mencurangi takdir agar Anael bisa lebih lama berada disini.
Ketika sedang
berjalan menuju kamar Bree, Kakek Voerman melihat beberapa dokter dan perawat
berbaju putih-putih berlari ke arah kamar cucunya. Keringat dingin menetes di
dahinya. Tangannya yang mengepal mulai bergetar. Ternyata ketakutan yang selama
ini selalu dihindarinya terjadi juga. Bree mengalami sedikit komplikasi akibat
overdosis obat. Kejadian ini membuat Bree harus koma selama beberapa hari.
Berhari-hari tanpa lelah Anael menemani Bree di rumah sakit. Matanya yang sendu
dengan lingkaran hitam menghiasi mengisyaratkan bahwa ia sudah sering menangis
beberapa hari ini. Ia sangat terpukul atas kejadian ini. Hatinya seperti tersayat
pisau tajam melihat keadaan Bree saat ini. Sesekali diusapnya tangan gadis itu
sambil membisikkan doa-doa. Selama di rumah sakit, Anael juga sering membawakan
bunga dandelion dan meniupkannya pada Bree hanya sekedar untuk membuat
harapan-harapan kecil yang semoga akan didengar oleh yang Maha Kuasa.
Desir
halus udara menandai kehadiran orang lain disitu. Tanpa melihat, Anael langsung
bisa mengenalinya sebagai Azrael, Pemandu arwah manusia ketika sampai pada
waktunya.
“Pergi”, usir Anael pada Azrael.
Azrael
menatap saudaranya, terbesit rasa iba dalam dirinya. Tapi, inilah garis yang
sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta. Ia tidak dapat melakukan apapun
selain menjalankan tugasnya. Azrael memberi saran Anael untuk kembali ke surga
dan memohon ampun. Itu bisa dilakukannya agar para Archon bersedia memberinya
Kemuliaan baru. Kata-kata Azrael seketika memberi Anael ide. Ia berencana ingin
memberikan kemuliaannya pada Bree sebagai jalan agar saat Bree meninggalkannya,
ia bisa mendapatkan kehidupan baru yang jauh lebih baik disana. Dengan
hati-hati Anael menaruh kristal itu di atas dahi Bree, suatu prosedur yang akan
membuat kemuliaannya masuk kedalam tubuh gadis itu. Kemuliaannya bercahaya
makin terang seiring dengan doa yang terdaras dari bibir Anael. Tetapi,
ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan Anael. Terdengar suara bip-bip
keras dari monitor ECG di sebelah tempat tidur Bree. Suatu tanda telah terjadi
kompikasi. Beberapa kali dokter menempelkan alat pemacu jantung pada dada Bree,
tapi sayang grafik pada monitor kian menurun. Para dokter menggelengkan kepala
dengan putus asa ketika garis lurus terus berjalan di layar mesin. Kakek
Voerman dan Anael menjerit frustasi. Bree Voerman dinyatakan meninggal pada
saat jarum jam menunjukkan angka 20.16.
Anael
masih bertahan di pemakaman, di depan dinding berwarna putih pualam tempat Bree
disemayamkan. Ia menatap foto Bree dengan pandangan kosong. Melawan usahanya
untuk berteriak, Anael mencengkram tangkai-tangkai bunga krisan yang diberikan
Kakek Voerman pada Bree. Bibirnya menahan tangis dan teriakan. Dia begitu
menyesal ketika Bree bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Pemuda itu tersentak ketika menyadari
bahwa ia tak sendiri lagi. Azrael telah berdiri disampingnya.
“Kau tahu dia mencintaimu, sebagaimana
kau mencintainya. Kalian tidak butuh kata-kata terakhir untuk menegaskan hal
itu. Kalau tidak salah, bukankan Aubrey menyukai dandelion? Kenapa kau
membawakannya krisan? Kau mendengarku, Hidup barumu adalah hadiah darinya,
sebagaimana hidup barunya adalah hadiah darimu. Nikmatilah!” Azrael mundur
selangkah lagi, tersenyum makin lebar, kemudian menghilang secepat
kedatangannya. Anael memanggil-manggil untuk bebeapa saat, bertanya dengan
sia-sia pada udara kosong tentang apa maksud kalimatnya yang begitu
membingungkan. Saat Anael berniat untuk melangkah pergi, tiba-tiba angin
kencang berhembus di sekitarnya dan menerbangkan bunga-bunga krisan menjauh.
Anael berlari mengejar bunga-bunga tersebut. Beruntung, krisan-krisan itu
melambat dan akhirnya jatuh berserakan di sudut pemakaman. Anael menunduk untuk
memungut bunga-bunganya yang terserak di antara ilalang. Belum lagi selesai,
gerakan tangannya terhenti saat menyadari bahwa bunga-bunga itu jatuh di dekat
beberapa tangkai dandelion liar yang entah bagaimana, bisa tetap tumbuh di
pertengahan musim dingin. Bulu tengkuknya berdiri ketika merasakan desiran
udara yang amat halus di belakangnya. Jantungnya mulai berdebar, telapak
tangannya berkeringat, gejala yang hampir selalu dia alami setiap kali bertemu
dengan…
“Aubrey?”
*****
*
Kelebihan
Made of Stars merupakan sebuah novel karya Hana Krisviana. Novel terbitan GagasMedia ini mengajak kita untuk mengikuti kisah cinta yang “tak terjangkau”. Penuh dengan keajaiban, pengorbanan, dan harapan. Kisah cinta antara seorang perempuan dengan sosok malaikat pelindungnya. Mengharukan, menyentuh perasaan, dan penuh perjuangan. Ketika membaca sinopsis di bagian belakang Novel, Kita akan langsung tertarik untuk mengetahui jalan ceritanya. Novel ini memang sangat bagus. Novel ini mengajarkan kita untuk mengenali beberapa makna benda-benda di sekitar kita, seperti langit, bintang, dan bunga dandelion. Selain jalan cerita yang menarik, Alur pada Novel ini juga tersusun secara teratur hingga pada akhir cerita. Di dalamnya juga terdapat puisi-puisi indah dari penulis ternama mancanegara. Selain itu juga terdapat kutipan kalimat motivasi di dalamnya. Novel ini mengajarkan kita untuk terus berusaha tanpa kenal menyerah dan memupuk diri kita untuk selalu menumbuhkan harapan yang dapat membangun semangat hidup. Sungguh Novel yang benar-benar menginspirasi. Melalui Novel ini diharapkan pembaca dapat mendapatkan pelajaran akan arti kasih sayang yang sesungguhnya, tentang ketulusan, dan perjuangan meraih apa yang diimpikan. Karena segala sesuatu ada konsekuensinya, dan yang lebih pasti tidak ada yang tidak mungkin. Segala kemungkinan bisa terjadi asalkan kita mau berusaha mengubah takdir.
*
Kekurangan
Novel
ini adalah Novel yang bersifat fiktif. Cerita yang ada di dalamnya hanyalah
cerita rekaan belaka sehingga kurang cocok dibaca pada anak-anak kecil yang
masih mudah terpengaruh dengan hal-hal yang bersifat khayalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar